Quarter-life Crisis: Apa Aku Sudah Cukup Baik?

Oleh : Keke.S.Psi.,M.Psi Pernah mengalami kesulitan untuk menghadapi kehidupanmu atau emosimu? Pernah mempertanyakan apakah yang kamu kerjakan saat ini benar atau nggak? Atau pernah pula merasakan stress karena kesepian? Mungkin kamu sedang mengalami quarter-life crisis. Tenang, kamu tidak sendirian. Hal ini dibuktikan juga pada sebuah survey yang dilakukan oleh Artiningsih dan Savira (2021), pada 63 individu dewasa awal di Surabaya, 55,6% memiliki emosi negatif terkait kondisinya, dimana mereka mengaku memiliki perasaan kurang berharga dan rendah diri, juga cenderung membandingkan kehidupan orang lain di media sosial. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Oliver Robin pada tahun 2017 terhadap 2000 millenials di Inggris (25-35 tahun) juga menunjukkan bahwa 56% mengatakan bahwa mereka berada di quarter-life crisis. Nah, kan. Nggak cuma kamu yang mengalami, kok! Berdasarkan buku Quarterlife Crisis: The Unique Challenges of Life in Your Twenties, Robbins dan Wilner (2001) mendeksripsikan bahwa quarterlife crisis ini sendiri adalah masalah yang dihadapi seseorang berkaitan dengan pilihan karir, keuangan, tempat menetap, dan hubungan. Robbins dan Wilner sendiri mendeskripsikan periode ini dimulai ketika seseorang lulus dari perkuliahan, dan ia merasa belum settle secara pekerjaan, stressful, dan memunculkan kecemasan dimana perasaan tersebut memunculkan perasaan tidak berdaya dan panik. Individu juga rentan mengalami depresi karena ia mulai merasakan tekanan dan berkurangnya support system yang seumuran dengannya. Fase quarter-life crisis ini memang dekat kok, dengan kehidupan orang-orang yang berusia 20 tahunan dimana menurut Arnett (2000), pada usia 18-25 tahun, terdapat perubahan yang cukup signifikan pada relasi seseorang, pekerjaan, orientasi politik, dan juga target hidup. Lalu, gimana sih, caranya untuk bisa menghadapi quarter-life crisis ini? Dalam artikel How to turn your quarter-life crisis into quarter-life catalyst (First Direct Bank), salah satu cara untuk untuk menghadapi quarter-life crisis adalah dengan melakukan hal-hal baru yang dapat mengubah perasaaan negatif karena hal-hal baru tersebut dapat dapat membangkitkan rasa penasaran atau curiosity. Selain itu, hal-hal baru yang kita lakukan dapat mengubah hidupmu karena: 1. Memberikan pandangan mengenai apa yang hilang dari dirimu saat ini, sehingga dengan mencoba hal baru, kamu mungkin dapat mengetahui hal-hal yang dapat memberikan dampak positif dan bermakna untuk hidupmu. 2. Membantumu untuk mengenali dirimu sendiri- apa yang kamu suka dan tidak suka, apa yang kamu inginkan dan tidak kamu inginkan. 3. Memperkaya perspektif yang kamu miliki, dimana ketika kamu mempelajari hal-hal yang sebenarnya kamu ahli di bidang tersebut, maka kamu dapat mengembangkan keyakinan dirimu sendiri. 4. Membuatmu merasakan energi positif dengan melakukan aktivitas yang menantang. 5. Membuka jalan untuk mengatasi krisis yang kamu hadapi dimana ketika melakukan hal baru, kamu dapat memiliki beragam ide mengenai bagaimana menjalani hidupmu ke depannya dan menciptakan hidup yang seimbang dan fulfill. Pertanyaan berikutnya, gimana caranya, sih untuk bisa mempelajari hal baru? Beberapa orang mungkin akan menyarankanmu untuk mengunjungi tempat baru, melakukan olahraga, mempelajari bahasa baru, dan sebagainya. Hal-hal tersebut bisa kamu lakukan juga, loh! Dan ada pula beberapa saran yang bisa kamu coba: 1. Ambillah waktu beberapa jam untuk untuk membuat daftar hal-hal di dalam hidupmu yang membuatmu belum puas. Dari hal-hal itu, ambil 2 hal yang ingin kamu ubah, kemudian lihatlah perubahan yang kamu rasakan setelah merubah hal-hal tersebut. 2. Eksplor hal-hal yang dulu sempat kamu nikmati dan kamu tinggalkan saat ini, seperti hobi yang dulu kamu lakukan sebelum bekerja atau berkuliah. Hobi yang sempat kamu tinggalkan tersebut dapat membuatmu mengingat kembali memori menyenangkan di masa lalu berkaitan dengan hobimu tersebut dan meningkatkan perasaan positifmu. 3. Membaca pengalaman orang-orang lain dalam menghadapi krisis, dan juga mempelajari fase quarter-life crisis. Hal ini dapat membuatmu sadar bahwa apa yang kamu alami saat ini hanya berlangsung sementara. 4. Membicarakan permasalahanmu kepada orang lain, agar kamu bisa memperoleh perspektif baru mengenai situasimu saat ini. Mencari nasihat dan bantuan atas masalahmu bukan berarti kamu lemah, tetapi kamu membutuhkan dorongan dan masukan agar dapat bertumbuh dan mampu melewati krisis yang kamu hadapi. 5. Carilah penasihat keuangan jika kamu memiliki permasalahan berkaitan dengan keuangan. Hal ini perlu banget kamu lakukan jika salah satu faktor krisis yang kamu alami saat ini berkaitan dengan keuangan. 6. Cobalah menjadi relawan! Kegiatan sebagai relawan dapat membantumu menemukan makna hidup jika kamu belum menemukannya di dalam pekerjaanmu. Dengan mengikuti kegiatan sebagai relawan, kamu pun dapat merasakan bahwa hidupmu bisa bermanfaat bagi orang lain. 7. Lakukan hal-hal kecil sebelum membuat keputusan besar. Mencoba hal-hal baru yang sederhana dapat menjadi langkah awalmu untuk mengambil keputusan yang besar. Quarter-life crisis mungkin merupakan salah satu tantangan besar dalam hidupmu, tetapi dengan kamu berhasil melewati fase ini, maka kamu pun bisa semakin pede untuk melewati tantangan lain dalam hidupmu. Semangat! Sumber: Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55, 469–480 Artiningsih, Rizky Ananda dan Savira, Siti Ina (2021), Hubungan Loneliness dan Quarter Life Crisis pada Dewasa Awal, Character Jurnal Penelitian Psikologi 8(5) . Robinson, Oliver (n.d), How to turn your quarter-life crisis into quarter-life catalyst, First Direct Bank. Rossi, Nicole E. dan Mebert, Carolyn J. (2011), Does a Quarterlife Crisis Exist?, The Journal of Genetic Psychology 172(2), hal 141-161.