Dimulai Darimana?

Setiap dari diri kita pasti pernah merasakan adanya sesuatu yang mengganjal dalam diri, dan membuat kita tidak merasa nyaman dengan diri sendiri, selain itu membuat diri kita tidak berkembang dengan maksimal. Sayangnya tidak semua orang menyadari dengan kondisi tersebut dan berusaha melupakannya begitu saja. Akibatnya, kita jadi lupa diri. Lupa diri disini berarti kita tidak mampu untuk mengoreksi diri, sehingga kita tidak mampu mengambil langkah penyelesaian masalah dengan baik, maka timbulah satu rantai masalah yang sewaktu-waktu dapat menjerat diri kita dan akhirnya knock out. Kondisi yang membuat diri kita tidak berkembang dengan maksimal adalah masalah yang harus diselesaikan. Masalah datang dari dalam diri sendiri, semua yang terjadi di lingkungan kita adalah stimulus yang bersifat netral. Bagaimana kita menyikapi itu yang bersifat seperti spektrum yang bergerak dari negatif, netral, sampai positif. Sebagai contoh seorang karyawan memiliki target dalam pekerjaanya. Target pekerjaan disini bersifat netral, namun bagaimana karyawan ini menyikapi dan menyelesaikan target adalah sesuatu yang berbeda bagi setiap orang dan bersifat seperti suatu spektrum. Mengapa bisa berbeda? Manusia itu unik, mereka seperti kotak penyimpanan yang besar. Isi masing-masing kotak tergantung di lokasi mana dia berada, jika dia berada di lokasi yang banyak ikan, mungkin dia akan menampung banyak ikan, jika dia berada di lingkungaan peternakan, mungkin dia akan digunakan sebagai kotak penyimpan telur-telur. Sama seperti kita. Kita adalah pribadi yang menyimpan banyak hal dalam diri kita, dalam pikiran, dalam tindakan, dan juga dalam perasaan. Darimana isi tersebut? Tentu dari lingkungan tempat kita berada dan berkembang. Apakah isi tersebut dapat berubah? Tentu saja bisa. Isi dapat berubah tergantung dimana setelah itu kita ditempatkan dan diisi dengan apa. Seperti teori psikologi dalam sudut pandang aliran behavioristik, bahwa manusia adalah produk dari lingkungan. Manusia memiliki sifat mekanistik, ia merespon lingkungan dengan kontrol yang terbatas (Sanyata dalam Jurnal Paradigma, 2012). Lingkungan yang kurang supportif akan menjadikan pribadi yang tidak maksimal dalam perkembangan pribadi kita. Namun, bukan berarti kita tidak akan berkembang dan bertumbuh dengan baik. Perlu adanya suatu intervensi untuk menyelesaikan dan memperbaiki. Albert Bandura (dalam Tarsono, 2010) menyatakan bahwa perilaku manusia dapat diprediksi dan dimodifikasi melalui prinsip belajar dengan memperhatikan kemampuan berfikir dan interaksi sosialnya. Pertanyaannya, siapa yang melakukan intervensi? Kita. Jawabannya adalah diri kita sendiri, dari diri sendiri. “The good life is a process, not a state of being. It’s a direction, not a destination” -Carl Rogers <i>italic</i> Karyawan yang memilih untuk melihat target sebagai suatu tantangan yang harus diselesaikan akan lebih berkembang secara mental dibandingkan dengan karyawan yang melihat target pekerjaan jadi sumber stress yag menjadikan dia terkena masalah pencernaan, susah tidur, dan masalah emosi serta hubungan dengan lingkungan sekitar. Kira-kira ada apa dengan karyawan itu ? Apakah dia salah? Kita tidak bisa judgment dengan orang-orang disekitar kita apakah tindakan yang dilakukan salah atau tidak sebelum mengetahui bagaimana cerita dibalik tindakan tersebut. Seperti seorang hakim sebelum memutuskan apakah seseorang bersalah atau tidak melalui pertimbangan dan diskusi yang melibatkan banyak perspektif. Dari hal tersebut kita belajar untuk self-control agar kita tidak mudah untuk judgement seseorang. Begitu juga ketika kita menghadapi diri kita sendiri. Terkadang kita mudah untuk menyalahkan diri kita sendiri atas situasi yang menekan dan membuat diri kita tidak nyaman. Lupa diri, karena begitu kita menyalahkan diri sendiri akan ada efek domino bagi lingkungan sekitar. Kita menjadi mudah menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, dan menyalahkan lingkungan, ketika kita tidak mampu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita, bahkan menyalahkan kondisi. Baru-baru ini dunia serasa tercekat akibat virus covid-19 yang mengakibatkan jutaan ribu orang terinfeksi di seluruh dunia, dan ribuan orang meninggal akbiat virus ini. Sebagian rang menyalahkan pemerintah yang dianggap lalai dalam menanggulangi penyebaran virus ini, sebagian orang menyalahkan teman-temannya yang terinfeksi dan menyalahkan mereka yang telah menulari, dan ada sebagian orang yang jadi menyalahkan diri sendiri akibat lalai dalam bertindak. Apakah hal ini wajar? Ya, hal ini wajar “It is a fact that cannot be denied: the wickedness of others becomes our own wickedness because it kindles something evil in our own hearts.” -Carl Jung <i>italic</i> Dunia memiliki begitu banyak stimulus, yang terkadang membuat kita kewalahan dalam menanggapi setiap stimulus. Sebagai contoh serang karyawan mendapat stimulus dari tempat kerja, namun dia juga memiliki peran yang lain di keluarga mungkin dia seorang ayah, ibu, atau anak. Dia mendapatkan stimulus lain dari keluarga, belum lagi perannya di masyarakat. Kita terkadang lupa dengan serangkaian aktifitas, dan akhirnya menyampingkan diri sendiri. Saat kondisi menyampingkan diri sendiri kita menjadi tidak aware dengan diri sendiri, dan hal tersebut juga akan berimbas pada lingkungan sekitar kita. Kita menjadi tidak aware dengan lingkungan di sekitar kita, kita menjadi seperti orang ling-lung, atau bisa jadi kita menjadi keras tak terbantahkan kerasnya dengan diri sendiri dan orang lain. Ini adalah salah satu tanda bagi kita untuk mundur sejenak dan melihat dalam diri. Keadaan seperti ini adalah tanda bagi kita untuk memulai mengevaluasi diri.